Bidadari
penulisnya di: Kina Nirmaya
Seandainya bunga dapat menjadi wakil hatiku saat ini, pastilah dia
layu. Seandainya bulan yang berbicara, pasti saat ini dia sedang
tertutup bumi dari matahari. Dan seandainya bintang yang bercerita,
mungkin saat ini adalah siang, yang menghalanginya untuk bersinar.
Aku Embun. Ya, teman dan orang orang sering memanggilku seperti itu.
Aku suka nama itu, sejuk. Embun tak pernah memilih daun untuk
dihinggapi. Kata bijak itu, ah lupakan! Aku adalah gadis usia 20 tahun
yang sampai saat ini masih mencari sesuatu. Yah, Sesuatu yang menjadi
teka teki dalam setiap lamunan malam penghantar tidurku. APAKAH BIDADARI
ITU NYATA? Hmm… kedengarannya aneh untuk gadis seusiaku. Biarlah. Aku
tak pedulikan hal itu.
“Abi… Apakah bidadari itu nyata?”
“umi’, apakah benar di dunia ini ada bidadari?”
Mereka hanya tersenyum memandangiku. Entahlah, apa yang mereka ingin katakan. Aku tak tau.
“umi’, apakah benar di dunia ini ada bidadari?”
Mereka hanya tersenyum memandangiku. Entahlah, apa yang mereka ingin katakan. Aku tak tau.
Hariku semakin sesak, dijejali pertanyaan yang sama dan semakin
menggunung. Namun satu clue teka tekiku pun belum juga terjawab. Aku
berlari hingga kaki kecilku tak sanggup lagi melangkah dan
mengantarkanku di bawah teduhnya gubuk di tengah tengah hamparan padi
yang siang itu ikut menyapaku. Hanya termenung, dan mataku jauh melihat
ke atas bukit hijau nan elok.
“neng, ngapain siang-siang begini di tengah sawah sendirian?” Tanya
bapak tani yang lewat. “main main saja kok pak…” Jawabku dengan
mempersembahkan sedikit senyumku untuknya. “bapak duluan ya neng.” “iya
pak..” kembali aku tersenyum.
‘Tuhan… APAKAH BIDADARI ITU NYATA?’ aku masih termenung.
“teman teman… lihat lihat. Ada pelangi…”
“pasti ada bidadari yang turun dari langit”
“eh, bidadari itu seperti apa sih?”
“cantik”. “aku pingin tau dong…”
BIDADARI? Aku tersentak mendengar teriakan anak anak kecil yang berlarian senang menyambut pelangi yang siang ini sengaja keluar mengiringi kepergian sang hujan.
‘mereka bilang ADA BIDADARI TURUN DARI LANGIT?’ batinku terus berdebat dengan jawaban jawaban itu. ‘Ah masa..?’ aku masih memikirkan itu. Ya, sepanjang perjalanan pulangku, masih terngiang ngiang tentang cerita bocah bocah itu.
‘Tuhan… APAKAH BIDADARI ITU NYATA?’ aku masih termenung.
“teman teman… lihat lihat. Ada pelangi…”
“pasti ada bidadari yang turun dari langit”
“eh, bidadari itu seperti apa sih?”
“cantik”. “aku pingin tau dong…”
BIDADARI? Aku tersentak mendengar teriakan anak anak kecil yang berlarian senang menyambut pelangi yang siang ini sengaja keluar mengiringi kepergian sang hujan.
‘mereka bilang ADA BIDADARI TURUN DARI LANGIT?’ batinku terus berdebat dengan jawaban jawaban itu. ‘Ah masa..?’ aku masih memikirkan itu. Ya, sepanjang perjalanan pulangku, masih terngiang ngiang tentang cerita bocah bocah itu.
“embun, dari mana? Kok sendirian?” Tanya wati di persimpangan.
Aku masih ngeloyor, dan… aku benar benar tak mendengar sapaannya. “embun?!” “astaghfirllah… Wati, kenapa kamu mencubitku seperti itu?” tanyaku. “embun… saya tadi Tanya, kamu dari mana kok sendirian?” wati agak memuncak emosinya karena kelemotanku. “anu… dari sawah wat… mau pulang nih sudah sore, nanti dicariin umi’ lagi”, “ya sudah mbun, hati hati ya…”.
Ku tengok jam kecil yang selalu ku ajak kemanapun langkah kaki
mengantarku. Sontak aku kaget. Jam 16.00. Ya Allah… Aku belum beres
beres rumah, belum ashar, belum bikin kopi buat ayah. Aku semakin tak
karuan paniknya. “Assalamu’alaikum umi’, maaf saya kesorean” sambil ku
cium tangan umi’ku. “waalaikumussalam embun, sudah umi’ sapu kok
rumahnya” jawab umi’ku seketika. “umi’, besok besok umi’ tidak usah
nyapu lagi ya, biar embun saja” aku gelisah dan merasa bersalah. “ndak
apa apa nak,.. sekali sekali umi’ yang mengerjakan tugasmu..”
“umi’… Maafkan embun ya” sambil memeluk umi’.
“ya sudah, kamu cepat mandi, shalat, habis itu abimu bikinin kopi.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan beranjak ke kamar mandi. Mandi, shalat, sudah ku dapatkan.
Sekarang saatnya aku membuat wedang kopi untuk abi. “terima kasih nak..” lagi lagi aku hanya tersenyum di depan abi umi’ku.
“umi’… Maafkan embun ya” sambil memeluk umi’.
“ya sudah, kamu cepat mandi, shalat, habis itu abimu bikinin kopi.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan beranjak ke kamar mandi. Mandi, shalat, sudah ku dapatkan.
Sekarang saatnya aku membuat wedang kopi untuk abi. “terima kasih nak..” lagi lagi aku hanya tersenyum di depan abi umi’ku.
Kembali ku membuka lamunanku, ya, pasti. BIDADARI.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR suara azan memecahkan heningnya suaraku di tengah tengah keramaian desa ku yang asri. Aku bergegas ke masjid depan rumahku. Sepoi sepoi angin senja mengantarkanku melangkah menuju masjid. Aku penasaran dengan suara yang membuatku tergetar. Merdu, indah, dan membuat siapapun merinding dibuatnya. Biarlah, mungkin itu suara mahasiswa KKN di sini. Ya, sudah 3 hari ini mereka datang ke desaku. “suara siapa sih?”. “eh itu namanya siapa?”. “oh ya? Aku pingin kenalan dong”. “duuh, merdu sekali”. Bisik bisik kecil dari teman teman seusiaku.
“embun Embun, kesini deh. Kamu tau ndak namanya siapa?” susi bertanya padaku yang baru datang dan, sama sekali tak tau apa apa.
“endak sus, memangnya kenapa?” jawabku agak cuek karena aku tak ingin ikut ikut teman teman ku yang jail. “eh aku ke depan dulu ya?” aku sengaja menghindar dari mereka.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR suara azan memecahkan heningnya suaraku di tengah tengah keramaian desa ku yang asri. Aku bergegas ke masjid depan rumahku. Sepoi sepoi angin senja mengantarkanku melangkah menuju masjid. Aku penasaran dengan suara yang membuatku tergetar. Merdu, indah, dan membuat siapapun merinding dibuatnya. Biarlah, mungkin itu suara mahasiswa KKN di sini. Ya, sudah 3 hari ini mereka datang ke desaku. “suara siapa sih?”. “eh itu namanya siapa?”. “oh ya? Aku pingin kenalan dong”. “duuh, merdu sekali”. Bisik bisik kecil dari teman teman seusiaku.
“embun Embun, kesini deh. Kamu tau ndak namanya siapa?” susi bertanya padaku yang baru datang dan, sama sekali tak tau apa apa.
“endak sus, memangnya kenapa?” jawabku agak cuek karena aku tak ingin ikut ikut teman teman ku yang jail. “eh aku ke depan dulu ya?” aku sengaja menghindar dari mereka.
“ASsalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuh”. Pak kiyai memberi
sambutan setelah selesai shalat. “saudara sekalian, setelah ini saya
minta untuk para remaja masjid agar mengikuti seminar dari para
mahasiswa”. Akhi, ukhti, di desaku ada REMAS (Remaja Masjid) yang baru
saja kami dirikan.
Sambutan berlangsung dengan khidmad. Acara seminar dimulai. Suasana
tenang diiringi paduan suara dari jangkrik dan katak yang teat teot sana
sini. Acara di mulai. “Assalamu’alaikum warohmatullah” seorang pemuda
berparas tampan dan tetap sederhana memberi salam pada kami semua.
“waalaikumsalam wr. Wb”. “sebelumnya saya perkenalkan diri, nama saya
lintang, usia saya 23 tahun”. ‘oooh… Namanya lintang. Dia kan yang tadi
adzan..’. Telingaku menangkap bisikan bisikan teman teman perempuaanku
yang dari tadi penasaran ingin tau namanya. Hummm… Tampan, tapi apakah
dia sholeh? Tanyaku dalam hati.
Semua materi telah di sampaikan oleh lintang. Cerdas. 1 kesimpulanku
tentang nya. Acara usai. Aku bersiap siap mendirikan shalat isya’
berjamaah. Semua telah selesai, dan aku berkemas untuk pulang. “emmm
assalamu’alaikum?” deg! Aku kaget dengan suara yang baru saja aku dengar
dan, tidak asing itu. “waalaikum salam.. mas lintang”. Namun aku tak
berani mendongakkan wajahku, aku berpaling muka. “maaf dek, abinya ada
di rumah ndak?”, “ada mas” singkat ku menjawab karena gemetaran. Aku
memang jarang sekali ngomong dengan laki laki yang bukan mahromku.
Mas lintang menuntun kakinya untuk sampai di rumahku. Memang ada
perlu dengan abiku. Aku hanya memendam diri di kamar. “embun… tolong
nak, bikinin mas lintang minuman.” “iya bii..”. aku ke dapur dan membuat
minuman untuk mas lintang dan abiku.
Minuman selesai ku buat. “ini bi”. “terimakasih ya nak, sini kamu sama abi..” abi membimbingku untuk duduk di sebelahnya. “ini, mas lintang ingin mengkhitbahmu”. Deggg!!! Srrrttt!!! Allah… Aku terperanjat mencari tau, aku sedang di mana. Aku di rumahku! Aku di duniaku! Aku aku… Aku.
Aku tertunduk seakan tak percaya dengan apa yang barusan abi katakan. “nak… Bagaimana?”
“abi.. mbun minta waktu ya? Besok embun kasih jawabannya”. Aku memberanikan diri angkat bicara dan memandang wajah abiku. “ndak apa apa embun, akan mas tunggu..” mas lintang mencoba mengertiku. Aku istikhoroh untuk mencari jawabannya.
Minuman selesai ku buat. “ini bi”. “terimakasih ya nak, sini kamu sama abi..” abi membimbingku untuk duduk di sebelahnya. “ini, mas lintang ingin mengkhitbahmu”. Deggg!!! Srrrttt!!! Allah… Aku terperanjat mencari tau, aku sedang di mana. Aku di rumahku! Aku di duniaku! Aku aku… Aku.
Aku tertunduk seakan tak percaya dengan apa yang barusan abi katakan. “nak… Bagaimana?”
“abi.. mbun minta waktu ya? Besok embun kasih jawabannya”. Aku memberanikan diri angkat bicara dan memandang wajah abiku. “ndak apa apa embun, akan mas tunggu..” mas lintang mencoba mengertiku. Aku istikhoroh untuk mencari jawabannya.
Sejuknya angina surga menerobos celah celah dinding kamarku. Menyapu
seluruh pengapnya ruang sempit ini. ‘sudah subuh’ gumamku. Aku terbangun
dan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengambil air
wudlu. Shalat subuh selesai ku dirikan. Aku menyapu rumah, mencuci
piring, memasak, mencuci, dan… Semua beres. “umi’… Mandinya masih
lama?”. “sebentar lagi nak..” . aku menunggu umi’ selesai dengan
menyiapkan sarapan untuk abi dan umi’ku. ‘saatnya mandi’. Semua telah
rapi, bersih dan harum. “embun… sebentar lagi mas lintang mau kesini,
kamu siap siap ya…”. Ya Allah… Bagaimana ini. Aku panik. Seluruh
keberanian ku kumpulkan untuk menjawab mas lintang. “assalamu’alaikum?”
mas lintang. “waalaikumsalam…” kami sekeluarga menjawab kompak dari
dalam rumah. “silakan duduk nak, “ kali ini mas lintang tidak sendirian,
dia ditemani oleh dua temannya. Aku semakin dag dig dug.
Obrolan pembuka pun lancar disuguhkan oleh abi dan umi’ku. Aku duduk
di sebelah umi’. “bagaimana embun? Kamu siap memberi jawabannya?” Tanya
umi’ku. Aku diam seribu kata. Aku tertunduk, aku malu, aku bimbang.
Namun Allah memberitau aku, bahwa dia jodohku. “bismillah, embun mau
umi’, abi..”.
Terlihat sorot mata mas lintang memancarkan cinta karena Allah.
Terlihat sorot mata mas lintang memancarkan cinta karena Allah.
Hari pernikahanku secepat mungkin dilangsungkan. Dan hari ini adalah
tepat dimana aku diserahkan pada mas lintang. “BIDADARI ITU NYATA DI
DUNIA NAK… yaitu kamu, yang saat ini menjadi bidadarinya LINTANG”. Kata
umi’ dan abi ku.
Selesai…
Memperistri Bidadari
mencintai dengan sederhana Senin, November 26, 2012 0
Ilustrasi Bidadari
Memperoleh bidadari di akhirat nanti adalah impian banyak lelaki. Namun
ternyata, ada lelaki yang telah mendapatkan anugerah menikahi bidadari,
bahkan di dunia ini. Siapa lelaki beruntung seperti itu dan bagaimana
caranya? Abu Bakar adalah salah satunya.
“Siapa ingin melihat bidadari,” sabda Rasulullah suatu ketika, “lihatlah
Ummu Ruman.”
Ummu Ruman, yang nama aslinya adalah Zainab, tidak lain adalah
istri Abu Bakar. Dialah ibu kandung Abdullah bin Abu Bakar dan Aisyah
binti Abu Bakar.
Perempuan seperti apakah Ummu Ruman hingga disebut bidadari oleh Sang
Nabi?
“Ia adalah sosok perempuan yang cantik lahir dan batin,” tulis
Muhammad Raji Hasan Kinas dalam buku Istri Para Khalifah
Cantik lahir tentu sangat relatif. Setiap orang, termasuk kaum Adam
memiliki pandangan yang berbeda. Dengan cinta, seorang suami akan
mendapati istrinya sebagai perempuan paling cantik sedunia.
Bentuk wajah, mata, bibir, hidung hingga warna kulit adalah pemberian
Allah. Pada titik ini, perempuan tidak selayaknya “bersaing” dan
“berbangga”. Maka mengusahakan menjadi cantik lahir bukanlah dengan
mengubah ciptaan Allah. Operasi plastik, misalnya. Itu dilarang oleh
Islam. Mengupayakan cantik lahir -di hadapan suami- adalah dengan
menjaga tubuh tetap bersih, rajin merawatnya, rajin berolah raga,
menjaga bau badan, tampil segar dan menjaga makanan serta pola makan.
Pada titik ini, satu upaya menjadi “bidadari” bisa dilakukan seluruh
istri.
Cantik batin adalah persoalan yang lebih substantif bagi “bidadari”.
Perempuan seperti Ummu Ruman bisa mendapatkan gelar “bidadari” karena
keimanannya. Dari iman yang kuat itulah ia kemudian menjadi pejuang
dakwah, bahkan pada generasi pertama. Setelah Abu Bakar menyampaikan
kabar gembira bahwa Muhammad diutus sebagai Rasulullah dan ia
mengimaninya, Ummu Ruman langsung menyambut seruan itu dengan masuk
Islam pula.
Maka hari-hari berikutnya diukir Ummu Ruman sebagai hari-hari perjuangan
Islam. Ia lah yang mendampingi dan mensupport Abu Bakar untuk menemani
Sang Nabi, termasuk dalam hijrahnya. Ia pula yang menemani Abu Bakar
saat mengalami boikot ekonomi bersama Bani Hasyim. Ia pula yang
memotivasi putrinya agar bersedia menjadi ummul mukminin.
“Ummu Ruman adalah anugerah teragung bagi Abu Bakar r.a,” lanjut
Muhammad Raji Hasan Kinas. “Ia adalah wanita shalihah sebagaimana
dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Jika suaminya memandang maka
dia membuatnya senang. Jika suaminya memerintahnya maka ia menaati. Jika
bersumpah atasnya maka ia membebaskannya. Jika suaminya meninggalkannya
maka ia menjaga diri dan hartanya.”
Maka berusaha menjadi bidadari di dunia berarti menempuh cara ini;
berusaha menjadi wanita shalihah. Dan sejatinya, bidadari dunia seperti
ini lebih mulia dari bidadari yang sesungguhnya.
Dalam hadits riwayat Ath Thabrani, Ummu Salamah menuturkan,
“Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita
dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?'
Rasulullah menjawab, 'Wanita-wanita dunia lebih utama daripada
bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tak
terlihat.
' Aku bertanya, 'Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada
bidadari?'
Beliau menjawab, 'Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka
kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka
adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau,
perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari
emas. Mereka berkata 'Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut
dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak
sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali.
Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.'
” Kau bunga ditamanku
Mekar dan kian mewangi
Menghiasi diriku
Dimanapun ku berada
Dilubuk hati ini
Engkau bidadari surgaku
Kepergianku dalam berjuang
Kau antar dengan do'a dan senyuman
Kemuliaanmu yang penuh ketulusan
Pantaslah bila kuhargai dirimu
Sebagai bidadari syurgaku
(Nasyid Bidadari Syurgaku, The Fikr)
Jika perempuan telah mengetahui rahasia menjadi bidadari,
bagaimana cara laki-laki mendapatkannya?
Jawabannya adalah, jika ingin mendapatkan istri seperti Ummu Ruman,
jadilah suami seperti Abu Bakar. Jika ingin mendapatkan istri seperti
Aisyah, jadilah suami seperti Rasulullah.
Artinya, jadikanlah diri kita baik agar pantas mendapatkan istri
yang baik. Itu bagi yang belum menikah. Bagi yang sudah menikah,
perbaikilah diri kita agar Allah memperbaiki istri kita.
“Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk
wanita yang baik.” (Qs. An Nur:26)
Wallaahu a'lam bish shawab.
Sumber: http://www.mencintaisederhana.com/2012/11/memperistri-bidadari.html
Semoga Bermanfaat
Sumber: http://www.mencintaisederhana.com/2012/11/memperistri-bidadari.html
Semoga Bermanfaat
Comments